kenaikan harga bbm

PENDAHULUAN

Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas yang memegang peranan sangat vital dalam semua aktifitas ekonomi. Dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak tersebut akan memperberat beban hidup masyakarat yang pada akhirnya akan menurunkan daya beli masyarakat secara keseluruhan.
Menurut data yang saya dapat, harga minyak di pasar internasional pada minggu pertama desember ini telah menembus US$ 99 perbarel. Masalah kenaikan harga minyak itu selama bulan terakhir ini menjadi pembicaraan hangat karena akan berdampak terhadap APBN dan perekonomian Indonesia. Kenaikan harga minyak tidak hanya dipengaruhi faktor penawaran dan permintaan, tetapi lebih kompleks dari itu.
Permintaan minyak dunia sebenarnya datar-datar saja, yaitu sekitar 85 juta barel/hari. Dari sisi penawaran, menurut Sekjen OPEC Abdalla Salem El-Badri, pasokan minyak mentah juga berjalan dengan baik. Bahkan OPEC telah memutuskan pada September lalu untuk menambah produksi sebanyak 500 ribu barel perhari dan mulai efektif 1 November lalu.
Menteri ESDM juga menyatakan, “Setiap kenaikan US$ 1 harga minyak, kita memperoleh `windfall` (keuntungan tambahan) sebesar Rp 3,34 triliun, dengan asumsi kursnya mencapai Rp 9.050 perdolar.” (Antaranews, 23/10/07).
Meski Pemerintah menjamin tidak menaikkan harga BBM, bukan berarti tidak akan terjadi apa-apa khususnya pada tahun depan (2008). Chatib Basri, Staf Ahli Menkeu, mengatakan bahwa pengaruh kenaikan harga terhadap APBN 2008 sangat bergantung pada produksi minyak dan pengendalian konsumsi BBM. Mengenai pengendalian konsumsi, memang harga BBM perlu dinaikkan. Namun, Pemerintah berkomitmen untuk tidak menaikkan BBM. Karena itu, perlu dilakukan pembatasan kuota BBM bersubsidi. Menurut Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Pemerintah akan berupaya mengurangi kenaikan subsidi akibat naiknya harga minyak dengan mengurangi konsumsi premium dan minyak tanah bersubsidi. Usulan pembatasan premium hanya untuk kendaraan umum saja mungkin adalah perealisasiannya.
Masalah migas di dalam negeri bukan hanya dipengaruhi faktor luar, yakni harga minyak dunia. Pengelolaan migas di dalam negeri juga menjadi biangnya. Pasalnya, migas di negeri ini sebagian besarnya (sekitar 90%) dikuasai oleh (baca: diberikan kepada) asing. Dampak positif kenaikan harga minyak justru banyak mengalir ke pihak asing. Padahal migas adalah milik seluruh rakyat negeri ini. Bayangkan, Pertamina hanya menguasai sekitar 10% saja. Masalahnya lebih runyam lagi. Hasil migas banyak diekspor. Pemenuhan minyak dalam negeri akhirnya banyak diimpor. Itu pun dengan harga lebih tinggi karena keberadaan broker. Salah satu biangnya adalah UU No. 22 Tahun 2001 tentang Migas. Pasal 22 menyatakan, “Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap wajib menyerahkan paling banyak 25% (dua puluh lima persen) bagiannya dari hasil produksi Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.” Kelangkaan gas dan tersendatnya pasokan BBM adalah “korban” dari pasal ini.
Negara hanya boleh mengelolanya mewakili rakyat dan hasilnya dikembalikan seluruhnya kepada rakyat. Dengan begitu seluruh dampak positif kenaikan harga akan kembali kepada rakyat. Di samping itu pemenuhan kebutuhan minyak juga dapat dijamin.
PEMBAHASAN

a). Penyebab Kenaikan Harga BBM Tahun 2007
Menurut beberapa kalangan, ada skenario yang dibuat oleh AS sendiri, yakni pada Agustus 2009, harga BBM akan mencapai 150 dollar AS per barrel. Berdasarkan skenario tersebut, Iran sudah memiliki pabrik nuklir dan oleh karena itu sanksi yang ‘lebih serius’ akan dijatuhkan Barat atas prakarsa AS terhadap negara tersebut. Sebagai reaksi, pemerintah Iran yang didukung oleh pemerintah Venezuela, yang saat ini merupakan sahabat Iran, akan menghukum Barat dengan mengurangi ekspor minyak mentah ke Barat sebesar 700 ribu barrel per hari. Tetapi, berdasarkan informasi yang ada terdapat fartor-faktor utama yang menyebabkan kenaikan harga BBM kali ini, yaitu :
1). Meningkatnya harga minyak di pasar London Pada hari Kamis 8 November 2007 yang mencapai 96,94 dollar AS per barrel, turun dari rekor 98,96 dollar AS yang tercatat di New York, Rabu, 7 November 2007.
2). Meningkatnya harga minyak dunia sebanyak 40% Sejak Agustus 2007 padahal permintaan dunia terhadap komoditas tersebut tetap pada tingkat sekitar 85 juta barrel per hari. Menurut fund manager dari ABN AMRO (dikutip dari Kompas, Jumat 9 November 2007), harga minyak seharusnya sekitar 55 dollar AS per barrel.
3). Terjadinya premium harga akibat geopolitik dan faktor musim dingin sekitar 5-10 dollar AS, sehingga harga yang layak hanya sekitar 60-65 dollar AS per barrel.

Jadi logikanya, jika permintaan dunia hingga saat ini tetap tidak berubah atau naik namun tidak terlalu besar (walaupun mungkin akan meningkat pesat menjelang musim dingin di Eropa dan Amerika Utara) seperti yang dijelaskan di atas, dan, dari sisi suplai, sesuai pernyataan OPEC bahwa pasokan minyaknya tidak punya masalah, maka kemungkinan besar (hipotesis) ada dua faktor utama penyebab kenaikkan tersebut, yakni ekspektasi masyarakat atau pedagang pada khususnya perihal geopolitik, terutama ketegangan antara Turki dan Irak soal Kurdi, ketegangan antara AS dan Iran soal bom nuklir dan peran spekulan yang telah memainkan pasar. Ulah spekulan tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh melemahnya nilai tukar dollar AS terhadap misalnya euro yang membuat spekulan mencari lahan lain untuk berspekulasi.
Menurut harian Inggris The Guardian edisi 29 Oktober 2007 (dikutip dari Kompas, Sabtu, 3 November 2007), dari faktor-faktor tersebut di atas yang diduga sebagai penyebab meroketnya harga minyak di pasar yang membuat kepercayaan atau permintaan masyarakat dunia terhadap dollar AS menurun relatif terhadap mata uang-mata uang penting lainnya terutama euro, dan mungkin juga yen. Menurut Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook, Oktober 2007, perekonomian AS diproyeksi akan tumbuh 2,8% pada tahun 2008, namun setelah kenaikkan harga BBM direvisi menjadi 1,9%. Selain perekonomian AS, pertumbuhan ekonomi zona Eropa juga direvisi dari proyeksi semula 2,5% diturunkan ke 2,1% pada tahun 2008. Untuk tahun yang sama, proyeksi pertumbuhan ekonomi Jepang juga direvisi dari 2,0% ke 1,7%.
Menurut The Guardian, para spekulan, terutama para hedge fund, tidak hanya di AS tetapi juga diluar AS mengalami kerugian besar akibat kebangkrutan sektor perumahan di AS. Untuk mengompensasikan kerugian itu, para spekulan melakukan posisi short (yakni aksi mencari untung, walaupun juga bisa rugi, dari transaksi-transaksi spekulatif jangka pendek untuk keuntungan jangka pendek) di bursa berjangka, khususnya komoditas minyak dengan harapan harganya akan naik.. Seperti yang dijelaskan lebih lanjut di harian Inggris tersebut, ketika terjadi kebangkrutan di sektor perumahan tersebut dan, sebagai salah satu akibat selanjutnya, terjadi gejolak harga saham global pada Juli 2007, sejumlah bank sentral menyuntikkan uang ke pasar dengan tujuan mencegah agar krisis itu tidak berkelanjutan. Menurut sumber berita tersebut, jumlah dana yang disuntikkan ke pasar dan sistem perbankan oleh bank sentral – bank sentral dari AS, Inggris, Jepang, Kanada, Eropa dan lainnya mencapai kurang lebih 300 miliar dollar AS.
Ketergantungan industri nasional terhadap impor bahan baku dari produk-produk turunan minyak akan menambah besarnya efek negatif dari kenaikkan harga BBM terhadap industri nasional, khususnya manufaktur.
Seperti yang saya kutip dari Kompas, 3 November 2007, menurut pengalaman dari Grup Indomobil, pada saat kenaikkan harga BBM di dalam negeri tahun 2005 sebesar 129%, industri otomotif nasional sangat terpukul. Hal ini karena harga bahan baku industri otomotif, seperti baja, aluminium, plastik, serta bahan baku cat yang masih harus diimpor memang dengan sendirinya akan ikut naik saat harga BBM di pasar dunia naik. Pada tahun 2005, kenaikkan biaya produksi otomotif, termasuk biaya angkutan bahan baku dan produk, berkisar 5%-10%. Saat ini pukulan terhadap industri otomotif nasional tambah besar akibat penjualan otomotif di dalam negeri saat itu anjlok sebesar 40%.
Menurut berita di berbagai media massa, akibat kenaikkan harga BBM yang cenderung terus berlangsung dan mendekati 100 dollar AS per barrel, perusahaan pelayaran berencana menaikkan tarif angkutan sebesar 15%-20% dan biaya tambahan bahan bakar 15% dari tarif angkutan. Di subsektor transportasi ini, biaya bahan bakar mencapai 65% dari total biaya operasional. Selain itu, diberitakan oleh Kompas yang sama bahwa tarif pengangkutan produk-produk konvensional, seperti gula dan beras, kemungkinan akan dinaikkan antara 12% hingga 15%.

b). Dampak Kenaikan Harga BBM 2007
Kenaikkan harga minyak tersebut telah memaksa sejumlah negara menaikkan anggaran untuk impor minyak. Kenaikkan anggaran itu akan ditimpakan kepada konsumen di dalam negeri melalui kenaikan harga BBM, seperti yang sudah terjadi di Nigeria, China, Vietnam, dan bahkan Malaysia (Kompas, Jumat, 9 November 2007). Di Indonesia juga kenaikkan anggaran akibat kenaikkan harga minyak tersebut akan terjadi, walaupun pemerintah telah beberapa kali menegaskan bahwa tidak akan ada pengurangan subsidi BBM tahun 2007 maupun tahun 2008. Tetapi, risikonya adalah bahwa dana pemerintah yang sudah disiapkan untuk tujuan-tujuan lain seperti pembangunan infrastruktur bisa hilang, digunakan untuk menutup kenaikkan anggaran tersebut.
Kenaikan harga minyak akan mempengaruhi pertumbuhan. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 6,1%, masih kurang dari target Pemerintah sebesar 6,5%. Adapun laju pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan turun dari proyeksi 5,2% menjadi 4,8%. BPS sendiri telah merilis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2007 adalah 6,5 %.
Kenaikan harga minyak dinilai akan menaikkan jumlah subsidi. Namun, Pemerintah mengambil kebijakan berbeda dengan tahun 2005 lalu. Tahun 2005 lalu, dengan alasan kenaikan subsidi akibat naiknya harga minyak, Pemerintah menaikkan harga BBM hingga rata-rata lebih dari 126%. Saat ini Pemerintah menyatakan tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi, setidaknya hingga 2009. Wapres Jusuf Kalla meminta masyarakat untuk tetap bersikap tenang atas kenaikan harga minyak dunia karena kenaikan harga minyak sebenarnya juga meningkatkan pendapatan negara. Ini terlihat ”aneh”. Tahun 2005 lalu Pemerintah sangat menonjolkan kenaikan subsidi akibat naiknya harga minyak, dan sebaliknya, ”menutup-nutupi” adanya kenaikan pendapatan negara sebagai berkah kenaikan itu. Sekarang justru sebaliknya. Kenaikan harga minyak di pasar internasional justru menguntungkan Pemerintah. Direktur Ekonomi Makro Bappenas Bambang Priambodo mengatakan, meskipun belanja subsidi bahan bakar minyak ikut terkerek, total pendapatan negara dari PNBP Migas, PPh Migas, dan penerimaan lainnya masih lebih besar dari beban subsidi. Setiap US$ 1 dolar kenaikan harga minyak akan meningkatkan pendapatan negara Rp 3,24 triliun sampai Rp 3,45 triliun; subsidinya juga naik Rp 3,19 triliun sampai Rp 3,4 triliun. Artinya setiap kenaikan US$ 1 dolar negara untung Rp 48-50 miliar (Tempointeraktif, 22/10/07).
Kenaikan harga minyak itu juga akan menaikkan cadangan devisa negara. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S Goeltom menyatakan pada akhir Oktober lalu bahwa cadangan devisa negara sebesar US$ 54,3 miliar. Menurutnya, dalam simulasi yang dibuat BI, untuk setiap kenaikan 1 dolar AS perbarel, pada triwulan IV 2007, akan meningkatkan surplus transaksi berjalan 23,3 juta dolar AS dan meningkatkan cadangan devisa 35,6 juta dolar AS setiap triwulannya; dan pada 2008 akan meningkatkan surplus transaksi berjalan 27,1 juta dolar AS dan cadangan devisa 36,3 juta dolar AS setiap triwulannya.
Namun, kenaikan harga minyak itu akan mempengaruhi industri, seperti industri tekstil dan produk-produknya (TPT), industri otomotif, dan kegiatan-kegiatan ekonomi dari sektor-sektor lainnya, terutama yang minyak merupakan bahan baku utamanya, seperti transportasi. Menurut Direktorat Jenderal Mineral, Batu Bara, dan Panas Bumi (DJM,BB,PB), dari total 60,48 juta kilo liter (kl.) BBM yang terjual di pasar domestik pada tahun 2006, sekitar 11,021 juta kilo. (atau 18,06%) ke sektor industri, 31,3 juta kilo, ke sektor transportasi, 9,95 juta kilo, ke rumah tangga dan 8,69 juta kilo. Volume penjualan tahun 2006 tersebut lebih rendah dari tingkat yang tercapai pada tahun 2005. Hal itu karena BBM industri ditentukan harganya mengikuti harga minyak internasional menurut harga rata-rata di bursa Singapura (Mid Oil Plats Singapore/MOPS).

PENUTUP

Kenaikan harga BBM dampaknya ke ongkos produksi. Dengan begitu, harga-harga barang pun akan ikut naik. Sementara, sebagian masyarakat tak punya daya beli. Sehingga akhirnya juga masyarakat yang harus menerima imbas. Menutup tahun 2007 , para pengusaha kita mendapatkan kado yang kurang indah. Yang pertama adalah kado rutin yang memang hampir setiap tahun, rela atau tidak rela, harus diterima yakni kado berupa revisi Upah Minimum Kabuptan/Kota. Bagi sebagian pengusaha penyesuaian harga UMK tidak dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan karena memang kondisi keuangan perusahaannya cukup memungkinkan untuk merevisi UMK. Bagi sebagian pengusaha lain, bisa menjadi lonceng kematian, karena untuk tetap bisa bayar upah buruh tiap bulannya saja sudah megap-megap.
Belum usai ‘derita’ dialami kalangan pengusaha, kini pemerintah lagi-lagi memberi kado pahit bagi kalangan pengusaha yakni keputusan PT Pertamina (Persero) yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi untuk konsumen per 1 Desember 2007 ini. Kenaikan cukup tinggi itu dipicu kenaikan harga minyak dunia yang sempat menyentuh 99 dolar AS per barel. Kenaikannya berkisar antara 14,6 persen sampai 21,7 persen. Selain itu, kenaikan harga juga dipicu melemahnya nilai tukar rupiah sekitar 1,87 persen dari bulan lalu.
Mungkin sebagian kita bersyukur karena hanya BBM industri yang dinaikkan, artinya bukan BBM yang dikonsumsi langsung rakyat banyak. Bisa jadi rasa syukur itu tidak terlalu keliru tetapi sesungguhnya kenaikan BBM industri tersebut pada gilirannya juga akan berdampak pada rakyat banyak. Kenaikan harga BBM nonsubsidi untuk kalangan industri hingga 21,7 persen menunjukkan pemerintahan tak konsisten dan tidak sensitif terhadap aspirasi masyarakat serta dunia usaha. Karena perkembangan industri kita belum kondusif dan meski kebijakan tersebut secara langsung mengenai pengusaha namun dampaknya juga ke masyarakat. Karena, bagaimanapun kenaikan harga BBM itu memaksa industri melakukan penyesuaian agar tidak mengalami kerugian.
Setiap kenaikan harga BBM dampaknya ke ongkos produksi. Dengan begitu, harga-harga barang pun akan ikut naik. Sementara, sebagian masyarakat tak punya daya beli. Sehingga akhirnya juga masyarakat yang harus menerima imbas kebijakan tersebut.
Belum lagi bila akhirnya harus membuat produksi terhenti dan pabrik tutup. Pengangguran bertambah dan masalah sosial baru pun bertambah. Efek domino kenaikan harga BBM ini adalah tingginya tingkat penyelewengan di kalangan industri. Bisa saja BBM bersubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat, justru dijual ke industri yang harga jualnya lebih tinggi. Bagaimanapun ini merupakan kabar kurang baik bagi kalangan industriwan, mengingat selama ini mereka masih banyak memakai konsumsi BBM. Ada jenis-jenis industri sangat banyak menggunakan, tetapi ada juga yang relatif sedikit. Namun rata-rata kenaikan harga BBM ini pastilah akan dirasakan dampaknya, terutama pada peningkatan cost of production. Padahal unsur-unsur biaya lain, termasuk harga pasokan bahan baku juga terus mengalami peningkatan. Efisiensi telah banyak dilakukan, tetapi kalau sudah harga BBM naik, pengaruhnya pastilah terasa. Peningkatan biaya produksi akan mendorong kenaikan harga jual dan pada gilirannya memperlemah daya saing di pasar internasional.
Padahal, kompetisi semakin ketat dan ada kecenderungan daya saing kita makin menurun. Dalam konteks ini, apakah tidak mungkin pemerintah membantu industri dengan memberikan subsidi BBM? Tampaknya persoalan keterbatasan anggaran yang akan menjadi kendala besar. Selain tantangan efisiensi di pasar global, di dalam negeri kalangan industri masih menghadapi kendala berupa penurunan daya beli masyarakat.
Hampir semua barang mengalami tekanan penjualan akibat sepinya konsumen. Namun tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Artinya, kenaikan harga BBM industri haruslah dilakukan. Seperti diketahui, BBM yang dipergunakan di dalam negeri diimpor dari luar negeri dengan menggunakan dolar AS. Maka apa yang terjadi di pasar uang global ataupun pasar minyak dunia akan berpengaruh bagi harga BBM di dalam negeri yang dijual Pertamina. Bagi kalangan industri tidak ada jalan perlu segera diantisipasi. Sebagai faktor eksternal yang uncontrollable maka yang terpenting bagaimana memperkecil dampak khususnya bagi peningkatan biaya produksi. Bagi yang sudah benar-benar efisien tentu akan mengeluh, karena tak mungkin lagi berhemat dan akhirnya kenaikan harga BBM industri tetap akan berdampak pada kenaikan harga jual produk industri manufaktur.
Pemerintah perlu membantu sektor industri yang dari waktu ke waktu semakin bertambah berat bebannya. Kalau menahan kenaikan harga BBM, listrik, dan lain-lain tak bisa dilakukan, mestinya bisa dibantu dengan upaya mengurangi tekanan biaya tinggi lain berupa keringanan pajak, pengurangan biaya kepabeanan, ongkos birokrasi, dan masih banyak lagi. Selama ini yang terkait dengan hal itu cenderung dibiarkan, sehingga kalangan industri semakin kerepotan. Kalau hal itu tidak diantisipasi bersama dan sektor industri terpukul, akan berpengaruh semakin berat. Sebab, produksi bisa menurun dan bahkan ancaman PHK kian besar.
Meski kenaikan harga BBM merupakan sesuatu yang harus dilakukan, kita pun ingin mengingatkan bahwa bukan berarti dengan langkah itu kita telah menyelesaikan seluruh persoalan. Kita malah berpendapat bahwa ini awal dari persoalan, yang menuntut kerja keras untuk menyelesaikannya agar tidak menimbulkan persoalan baru yang lebih rumit. Langkah lanjutan yang perlu dilakukan adalah memenuhi janji untuk memberikan insentif bagi dunia usaha. Kalau akan diberikan kelonggaran pajak kepada dunia usaha, segeralah lakukan. Demikian pula kalau hendak mengurangi beban biaya yang memberatkan. Tanpa adanya insentif, sektor dunia usaha hanya akan mampu bertahan tiga bulan. Setelah itu, dunia usaha akan bertumbangan. Kalau itu yang terjadi, maka yang dikhawatirkan bukan hanya meningkatnya PHK, tetapi penerimaan pemerintah dari pajak pun akan terganggu. Akibatnya, kemampuan pemerintah membiayai pembangunan akan ikut menurun dan akhirnya kualitas bangsa ini akan terus menurun.
Kita juga mengharapkan adanya dukungan dari sektor dunia usaha dan masyarakat. Ada kemauan dari semua pihak untuk mencari jalan keluar dari situasi yang berat seperti sekarang ini. Salah satu yang bisa dilakukan adalah meningkatkan produktivitas. Semua orang harus berupaya untuk bisa menghasilkan sesuatu yang lebih besar dari biaya yang harus dikeluarkan. Dengan itulah, kita bisa meningkatkan efisiensi dan memenangi persaingan. Hal lain yang perlu dilakukan adalah melakukan penghematan. Tingginya harga BBM harus memaksa kita untuk lebih selektif dalam menggunakannya. Ibaratnya, tidak bisa lagi seperti dulu di mana kita tidak perlu berhitung dengan persoalan BBM. Kalau sering kita menyebut Indonesia Incorporated, sekaranglah kita ditantang untuk melaksanakannya.

SARAN

Sudah saatnya kita merubah perilaku atau mengubah kebiasaan kita dalam melakukan pemakaian BBM. Sekarang mari bersama-sama kita melihat fakta dan secara bergotong-royong untuk membangunkan kesadaran seluruh anak bangsa. Agar mau tahu terhadap situasi persoalan krisis energi yang kita hadapi ini. Mari bersama, mulai detik ini kita bangun kesadaran kolektif. Untuk mulai membudayakan dan membumikan tradisi pemakaian BBM. Kita hargai dan kita dukung kebijakan pemerintah menghemat energi. Tapi, jangan hanya karena harga BBM naik dan negara kekurangan dana, kita menghemat. Sikap dan budaya hemat itu sendiri amat kita perlukan. Pepatah-petitih kita miliki segudang, di antaranya hemat pangkal kaya. Tetapi orientasi nilai dan sikap hemat tidak lagi kita praktikkan. Kita terbawa arus hidup boros. Kita bisa membangun gedung dan infrastruktur. Kita alpa, lemah, bahkan dikorup pemeliharaannya. Tampaknya hal itu soal kecil, tak berarti. Padahal setiap kali ditunjukkan oleh bangsa lain dan oleh komunitas-komunitas lain, hemat memang benar pangkal kecukupan. Pandai memelihara adalah sikap, orientasi nilai dan kebiasaan yang kita perlukan.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: